Ririn Paris

Just my simple blog

Teringat masa kecil

Pagi hari ini tiba-tiba saya teringat kejadian yang terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya ingat sekali posisi kelas saat itu. Saya duduk di deret bangku nomer 2 dari belakang. Saya duduk dengan teman saya yang bernama xxx. Nomer 2 dari kiri pintu masuk kelas. Kalau tidak salah, saat itu saya kelas 4 atau 5 SD. Kondisi meja SD saya bolong-bolong.

Memori yang saya ingat adalah saat itu sedang ada pembentukan kelompok untuk tugas keterampilan membuat bunga. Saya belum punya kelompok dan saya bertanya kepada teman sebangku saya “Kamu ikut kelompok siapa?”. Teman saya pun menjawab, “Aku ikut kelompok si A”. Kalau tidak salah, saya pun mencoba bertanya apakah masih bisa saya masuk kelompok tersebut. Tapi ternyata sudah tidak bisa karena guru mengatakan bahwa ada batas maksimal jumlah anggota kelompok.

Alhasil saya tidak punya kelompok. Saya berjalan pulang dengan keadaan sedih, kalau tidak salah saya pun menangis saat itu. Pada saat saya berjalan pulang, ibu saya menjemput saya dan melihat saya. Saya menceritakan kalau saya tidak dapat kelompok.

Setelah kejadian saya pulang sekolah, saya tidak ingat apa yang terjadi.

Nah… Ketika tugas keterampilan itu sudah mulai dilaksanakan. Saya duduk sendiri. Jelas sudah hal itu terjadi karena saya tidak punya kelompok. Saya mengerjakan tugas keterampilan membuat bunga itu sendirian. Peralatan dan perlengkapannya pun sudah saya bawa ke sekolah. Ketika saya sedang mengerjakan tugas keterampilan itu, ada seseorang yang bertanya (saya lupa apakah itu guru atau teman saya atau mungkin kedua-duanya), “Kok sendirian?”. Ku jawab saja, “Aku gak punya kelompok”.
Entah guru yang menyuruh atau teman ku yang menawari, akhirnya saya masuk kedalam kelompok teman saya (teman sebangku saya). Mungkin mereka iba dengan keadaan ku yang kata orang jawa “mesakke” alias kasihan. Tugas keterampilan itu tidak selesai saat pelajaran berlangsung sehingga kami (saya tidak sendiri lagi) mengerjakan tugas tersebut di rumah salah satu anggota kelompok.

Rasanya tidak mengenakkan ketika kita tidak dapat kelompok dalam mengerjakan tugas. Hal tersebut adalah hal yang selalu saya takutkan ketika ada pembentukkan kelompok. “Kira-kira bakal dapat kelompok gak ya?”. Tapi lambat laun hal tersebut bukanlah hal yang menakutkkan lagi. Bayangkan kejadian masa kecil tersebut bisa membuat saya takut dengan adanya tugas kelompok. Bukan karena tugasnnya tapi karena “apakah saya akan mendapatkan kelompok?”.

Secara tidak langsung hal tersebut sudah menyerang mental seorang anak kecil yang masih SD. Keadaan dimana anak-anak SD belum terlalu memahami bagaimana perasaan seorang teman yang tidak mendapatkan kelompok.

Kejadian di atas membuatku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membiarkan seseorang sendirian karena saya tau betapa tidak menyenangkannya duduk sendiri dimana yang lain berkelompok atau bergerombol. Contoh yang sederhana adalah makan bersama. Duduk dengan orang yang sendiri atau ajak orang tersebut bergabung. Satu hal lagi yang menjadi pelajaran bagi ku dan tekad saya ketika SMP adalah “Saya harus punya teman sebanyak mungkin. Harus kenal orang sebanyak mungkin. Harus bergaul semaksimal mungkin”.

Terima kasih Tuhan atas masa kecil ku itu. Kejadian masa kecil itu memberi pelajaran yang berarti bagi ku. Aku pun berterimakasih karena Engkau telah mengingatkan aku akan kejadian itu pada pagi hari ini. Menemani seseorang itu menyenangkan. Jangan pernah tinggalkan teman karena hal itu menyakitkan.

Filed under: Celotehan, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: